Laman

Senin, 17 Oktober 2011

Proyek Pengurukan Pasar Caruban Molor


Pilarrakyat - Madiun.  PT Idee Murni Pratama selaku pelaksana mega proyek pasar baru Caruban (PCB) di Temboro, Kelurahan Bangunsari Mejayan Kabupaten Madiun Jawa Timur, tampaknya ‘tak gubris’ warrning Komisi D DPRD setempat. Buktinya, pekerjaan teknis pengurukan hingga kini masih berjalan sekitar 66 persen. 

Praktis, pekerjaan pengurukan dimintai selesai sesuai jadwal yakni pada 23 Oktober depan, terancam molor. Dari empat zone lokasi pengurukan masing-masing berukuran 46,5 x 46,5 meter, hingga berita ini diturunkan belum ada satupun yang rampung 100 persen. 

Ketua Pelaksana Proyek PCB, Teguh yang dikonfirmasi wartawan mengakui jika pekerjaan pengurukan terancam molor.  Alasannya, karena masalah teknis,  seperti tidak lancarnya pasokan material urug yang diambil dari lokasi penggalian di Kaliabu.

Selain itu, tambahnya, juga disebabkan karena alat berat dilokasi penggalian sering rusak dan  jumlah armada yang masuk tidak sebanding dengan luas lokasi. “Baru satu zone yang sudah 90 persen rampung. Sedang pekerjaan urug di zone dua, tiga dan empat  baru mencapai sekitar 66 persen. Maunya kita sich pekerjaan cepat selesai. Tapi mau bagaimana lagi,” kata Teguh Ketua Pelaksana Proyek PCB ditemui dilokasi Minggu (16/10).

Menurutnya, meski pekerjaan urug molor, namun kini pihaknya tengah berupaya mencari solusi, agar scedul tidak mengalami keterlambatan. Salah satunya, dengan memajukan pekerjaan pancang.

”Meskipun pekerjaan urug bisa rampung dikerjakan sesuai scedul, tetapi, belum tentu mesin pancang bisa menjangkau semua lokasi yang sudah di urug,” jelasnya.

Salah seorang petugas leveransir PCB juga mengakui adanya masalah teknis pengurukan. Menurutnya, keterlambatan pasokan material urug selain disebabkan karena alat berat dilokasi penggalian sering rusak dan minimnya armada, juga disebabkan karena jarak tempuhnya agak jauh dari lokasi.

Sehingga, jika awalnya diperkirakan dalam satu hari bisa memasok material urug sebanyak 200 rit, kini hanya mampu 150 rit saja. “Idealnya dalam satu hari memang 200 rit. Tapi, rata-rata kami hanya bisa memasok 150 rit,” ujar Wondo leveransir tanah urug PCB, Minggu (16/10).

Sekedar diketahui, pembangunan mega proyek PCB diatas lahan 1,8 hektare diperkirakan menelan anggaran sebesar Rp. 70 miliar dari APBD I dan II.  Namun dalam pelaksanaannya ada banyak persoalan.

Bahkan, ketika Komisi D DPRD Kab Madiun turun gunung melakukan sidak ke lokasi proyek PCB Selasa (4/10) lalu, ada beberapa pekerjaan teknis PCB yang mendapat sorotan. Diantaranya, soal besi beton pada pondasi pagar yang dicor, jaraknya terlalu lama dari pengecoran pertama. Pengecoran straus tidak menyisakan sekitar 20-30 centimeter untuk pengecoran berikutnya.

Karena itu, Komisi D memperingatkan, agar pelaksana harus memperhatikan musim yang saat ini dinilai mendukung pengerjaannya dan diharapkan proyek bisa tepat waktu. Karena kontraknya tiga tahun,mulai September ini sampai Agustus 2013. (hwi/jur)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar